Memaknai 76 Tahun Kemerdekaan Indonesia di Tengah Pandemi

PRecious Communications Strengthens Integrated Capabilities, Drives Momentum With New Consumer Client Wins for PRecious Life Practice
August 16, 2021
A Force for Good: Impact Investing and the Power of Communications in Asia
August 26, 2021

Tahun 2021 menjadi tahun perayaan ulang tahun kemerdekaan ke-76. Selama dua tahun berturut-turut, suasana peringatan HUT RI tahun ini masih diliputi suasana yang jauh dari kata meriah di tengah meningkatnya kasus COVID-19 dan pemberlakukan pembatasan sosial di tengah masyarakat.

Berbagai cara kreatif bermunculan untuk merayakan momen Agustusan, meskipun harus berlangsung secara virtual. Semarak kemerdekaan seolah tidak pernah sirna di tengah terpaan badai pandemi yang tengah menghantam negeri ini.

Kami pun tak mau ketinggalan untuk berpartisipasi membagi kisah peringatan kemerdekaan republik ini. Berbagai kemeriahan yang pernah dirasakan pada masa sebelum pandemi dulu, menjadi kenangan sekaligus asa untuk terus berjuang menghadapi situasi yang sulit ini. 

Aditya Rizky (Adit)

Sebelum pandemi biasanya banyak hal yang bisa dilakukan seperti menyaksikan dan berpartisipasi ikut lomba di tingkat RT/RW. Lomba makan kerupuk dan masak nasi goreng merupakan lomba favorit saya karena segala sesuatu lomba yang berhubungan dengan makanan pasti saya suka! Tapi pada tahun ini yang serba keterbatasan ini mungkin waktunya kita melakukan refleksi diri dan mengingat kembali apa yang sudah kita lakukan untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia yang ke-76 tahun ini menjadi yang kedua kali berlangsung di tengah pandemi, sehingga kita harus bisa mendapatkan kemerdekaan sekecil apapun dalam diri kita. Menurut saya, kita bisa mulai dari diri sendiri dalam menyukseskan program vaksinasi nasional yang digagas pemerintah misalnya. “Dengan berkontribusi kecil, kita akan bisa menjadi bagian dalam perjuangan untuk merdeka dari pandemi”.

Anggreni (Eni)

Setiap tahunnya, rutinitas 17-an saya berkutat pada menonton upacara bendera yang ditayangkan di televisi nasional, lalu lanjut santai di rumah bersama keluarga. Kadang rindu juga sih berlomba makan kerupuk, memasukkan pensil ke dalam botol, dan balapan lari menggigit sendok dengan gundu di atasnya. Menarik karena setiap orang ditantang untuk adu cepat dan fokus, sayangnya kondisi saat ini tidak mendukung. 

76 tahun kemerdekaan Indonesia menunjukkan banyak peningkatan dan perubahan yang positif pada masyarakat Indonesia. Pelan namun pasti, Indonesia menjadi negara yang semakin kreatif, kompetitif, penuh toleransi, dan kasih. Hal ini terlihat dari sikap gotong royong dan peduli terhadap sesama selama hampir 1,5 tahun pandemi berlangsung. “Semoga Indonesia tidak berhenti bertumbuh dan selalu ingat dengan nilai-nilai luhur Tanah Air tercinta, karena merdeka berarti terus bertumbuh”.

Aurelia Nathania (Nia)

Saya memperingati dirgahayu setiap tahun dengan upacara di kampus/sekolah bersama teman-teman, namun tahun ini berbeda. Sejak kecil saya selalu suka momen Agustusan yang selalu diwarnai berbagai lomba seru, lomba makan kerupuk dan memasukkan jarum ke botol misalnya. 

Menurut saya 76 tahun kemerdekaan Indonesia bermakna awal baru, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk diri sendiri sebagai seorang warga negara. Saya tengah memasuki fase kehidupan yang baru, yaitu bersama keluarga baru saya – Precious Indonesia. Tentu saja, tahun ini tidak akan kalah seru. “Tidak sabar nih menunggu 17-an tahun ini”!

Debra Johannes (Debra)

Selama ini, saya hampir selalu terlibat dalam pesta rakyat di komunitas setempat. Namun tentunya sejak tahun lalu mengingat situasi yang ada, tentunya ada perubahan. Saya suka sekali ikut lomba menyanyi dan  lomba puisi, karena dua lomba ini memberikan saya kesempatan untuk menyalurkan hobi dan talenta saya.

Sejak tahun lalu, saya memperingati kemerdekaan dengan refleksi pribadi soal merdeka versi saya sesimpel apapun itu. 

Tujuh puluh enam tahun bangsa nya, namun belum merdeka secara penuh rakyat nya”

Seringkali buat orang banyak, merdeka itu konteks nya selalu dengan hal-hal besar dan grande. Buat saya, kemerdekaan kali ini berbicara bagaimana selama tujuh puluh enam tahun kita tidak hanya mengecap, namun juga mengalami kemerdekaan kita versi pribadi dalam kehidupan sehari-hari. 

Salah satu contoh kecil adalah bagaimana kita merdeka dari kebiasaan mematikan alarm untuk tarik selimut lagi di pagi hari, merdeka dari kebiasaan menunda makan siang, dan merdeka dari hubungan yang tidak seimbang adalah beberapa contoh kemerdekaan versi saya yang tahun ini saya selebrasikan. 

Ellen Novida (Ellen)

Senang sekali rasanya saya bisa pernah merasakan perayaan lomba, dari ikutin lomba balap karung, masukin pensil ke botol, makan kerupuk, pindahin kelereng pakai sendok, dan masih banyak lagi. Memenangkan lomba balap karung beberapa tahun lalu menjadi salah satu momen yang membuat saya bisa merasakan kehebohan dan kehangatan perayaan 17-an. Kegiatan lomba – lomba ini tentunya belum bisa dirasakan lagi sekarang karena pandemi yang ada, tapi tentunya hal ini tidak membatasi kreativitas orang – orang untuk merayakan hari ulang tahun dengan cara yang berbeda. 

Untuk tahun ini, meskipun saya belum bisa merasakan kemeriahan menonton orang berkompetisi di lomba tarik tambang, atau melihat bapak – bapak yang kerja sama di pohon pinang, yang penting buat saya adalah kita semua bisa merasakan semangat yang sama seperti tahun sebelumnya. Momen yang mengharukan dan membahagiakan ini semoga bisa tetap dirasakan oleh setiap orang. Selamat ulang tahun Kemerdekaan Indonesia!

Jovani Shaloom (Jovani)

Dulu, setiap Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia sih pastinya saya selalu upacara ya, plus lomba-lomba yang meriah, terutama lomba makan kerupuk atau balapan sambil membawa kelereng karena gak susah mainnya. Tapi sepertinya tidak memungkinkan karena kondisi pandemi. Jadilah tahun ini paling berfoto dengan bendera Indonesia aja ya sambil update ke media sosial tentunya.

HUT Indonesia di tahun ini buatku sih harusnya berarti sudah bisa merdeka dari segala bentuk diskriminasi, karena perjalanan 76 tahun bukanlah waktu yang singkat.  

Joyce Hutapea (Joyce)

Peringatan kemerdekaan Indonesia tidak harus menunggu tanggal 17 Agustus. Selalu ada momentum untuk berbangga dan bersyukur punya tanah air Indonesia. Secara spesifik pada tanggal 17 Agustus sebelum pandemi, saya selalu menonton televisi setiap pagi untuk melihat upacara bendera dari Istana Negara. Selalu mengharukan melihat Sang Saka Merah Putih naik dan berkibar, dan parade paskibraka. Di samping itu, saat saya kecil, senang sekali rasanya mengikuti lomba yang berkelompok! Selalu seru bermain tarik tambang, atau lomba bakiak, karena bisa teriak-teriak menyemangati sesama teman kelompok dengan riuh rendah, tertawa sampai pegal dan terpingkal-pingkal, dan gak peduli menang atau kalah, selalu ada teman untuk berbagi dan bertukar cerita karena punya pengalaman spesifik yang sama.

Usia 76 tahun harus jadi milestone baru buat Indonesia – dan tentunya ke arah yang lebih baik. Lebih banyak keterbukaan komunikasi dan kolaborasi, kerjasama mutual dengan berbagai stakeholders. Untuk usia yang baru 76 tahun, dengan 260an juta penduduk yang tersebar di ribuan pulau, Indonesia memiliki banyak sekali potensi. Menjadi negara ekonomi digital terkuat di kawasan Asia Tenggara bukanlah prestasi yang bisa dimiliki oleh sembarang negara, dan luasnya room for improvement menjadikan Indonesia adalah lahan basah untuk banyak sekali startup dan bisnis untuk dimulai dan berkembang. Potensi tersebut tentunya harus didukung oleh semakin baiknya komunikasi dan kolaborasi dengan semua stakeholder, dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri – kitalah Indonesia. Dirgahayu 76 tahun untuk kita semua!

Melisa Hanjaya (Melisa)

Tahun-tahun sebelumnya aku suka nonton anak-anak ikut berbagai lomba di dekat lingkungan rumahku, kadang juga ada beberapa adik sepupu aku yang ikut partisipasi. Lomba 17an favoritku adalah tarik tambang, karena membutuhkan kerja sama semua dan benar-benar tidak mengandalkan upaya satu orang untuk mencapai kemenangan. Namun dua tahun ini kebiasaan kita sedikit berubah karena adanya pandemi, jadinya aku memperingati kemerdekaan tahun ini dengan ikut memanfaatkan dari platform e-commerce sekalian bantu para pelaku bisnis UMKM. Wuhuu!=

Buatku 76 tahun kemerdekaan ini menjadi tanda perjuangan dan pertahanan Indonesia. Walaupun sudah merdeka 76 tahun yang lalu, tapi Indonesia terus menghadapi berbagai tantangan, salah satunya pandemi COVID19 saat ini. Namun, seperti halnya berbagai tantangan yang sudah kita hadapi sebelumnya, Indonesia selalu mampu bertahan dan berkembang lebih baik dari sebelumnya. “Kemerdekaan untuk aku adalah untuk terus berjuang menghadapi tantangan, karena suatu hari kita akan berkembang menjadi versi yang lebih baik dari diri kita”. 

Panji Pratama (Panji)

Tanggal 17 Agustus adalah tanggal merah, artinya libur tambahan setiap tahunnya. Tapi tentu sebagai warga negara yang baik saya selalu mencoba menyempatkan untuk mengikuti prosesi upacara 17-an yang disiarkan di televisi nasional. Makin tua republik ini rasanya semakin membuat saya merindukan perlombaan yang selalu menyertai perayaan HUT RI setiap tahun. 

Semasa kecil, saya yang ‘anak kolong’ ini selalu ikut meramaikan lomba di kompleks bersama anak-anak sebaya dengan suka cita. Bak ikut olimpiade, saya dengan semangat dan kompetitif mengikuti lomba balap karung, bakiak, membawa kelereng dan makan kerupuk untuk memperebutkan hadiah yang menarik. Setelah dewasa, barulah terpikir bahwasanya lomba 17-an ini sejatinya bermakna perjuangan.

Tahun ini akan sama dengan tahun sebelumnya, kita merayakan 17-an dengan keprihatinan karena bangsa ini masih dilanda pandemi yang tak kunjung usai. Semangat tujuh belasan dalam 76 tahun kemerdekaan Indonesia pastinya tidak luntur akibat wabah penyakit, karena Indonesia adalah bangsa yang sudah teruji dalam berbagai kondisi. Diam di rumah di tanggal merah. Khidmat mengikuti upacara penaikan bendera. Berdoa untuk bangsa dan negara ini. Dirgahayu Republik Indonesia!

Rhesa Rudiansyah (Rhesa)

Sebenarnya di luar upacara yang dilakukan karena kewajiban saat bersekolah, tidak ada hal-hal khusus yang saya lakukan. Hanya mungkin di masa pandemi seperti saat ini di mana ruang gerak terasa dibatasi, yang paling kentara adalah saya sadar negara ini masih perlu banyak dibenahi. Dan berpikir soal tersebut menjadikan saya juga ingin membenahi diri sendiri hehehe. Mungkin tahun ini, karena tidak ada lomba panjat pinang yang saya gemari, saya akan lebih banyak refleksi diri sambil tetap menikmati hari libur tentunya.

76 tahun kalau manusia itu sudah tua renta, tapi untuk sebuah negara justru masih belia. Indonesia ada di tahap ini, negara yang sudah tahu dirinya siapa tapi masih coba-coba cari cara terbaik supaya bisa terus bertumbuh. Agak tidak adil rasanya jika membandingkan Indonesia dengan negara lain yang lebih maju karena titik start, resource, dan kebijakan yang berbeda. Tetapi, jika membandingkan Indonesia dengan dirinya 5, 15, 25 tahun ke belakang, kita semua pasti setuju kalau Indonesia sudah jauh lebih baik. Negara kita ini memang tidak sempurna, tapi sejauh apapun kita pergi, kayaknya akan selalu ada panggilan hati untuk kembali ke sini. Rumah kita semua, Ibu Pertiwi. Padahal sih alasan aslinya karena bakso dan nasi padang. Selamat HUT Indonesia! Panjang umur Republik kita!

Stephen Warouw (Stephen)

Agustusan mungkin tidak terasa begitu spesial bagi saya, tiap tahun relatif sama tanpa ada perayaan yang spesifik. Tapi saya senang melihat semangat anak-anak yang berlomba ketika 17-an. Semangat kebersamaan dan riuh ramainya mereka mengikuti lomba seperti tarik tambang, balap karung, dan makan kerupuk, tak pernah gagal untuk membuat saya tertawa. 

Suka cita perayaan lomba kemerdekaan itu mungkin yang membuat saya mengingat 17 Agustus secara khusus. Sayangnya untuk tahun ini kita masih harus di rumah dulu. Dirgahayu Republik Indonesia, negara yang relatif masih muda dan masih akan terus berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *