Apakah kajian lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) di Indonesia masih dangkal?

ESG education still a big challenge in Indonesia, PRecious’ Joyce Hutapea tells Marketing Interactive
September 8, 2022
Sustainability in Indonesia - Precious

Pada bulan Januari tahun ini, Presiden Joko Widodo meluncurkan Taksonomi Hijau Indonesia pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2022 yang bertujuan untuk mengklasifikasikan kegiatan pembiayaan dan investasi berkelanjutan untuk membantu pemegang saham di Indonesia melakukan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Taksonomi Hijau adalah salah satu kebijakan pertama di negara ini yang mendorong sektor swasta untuk menjadikan investasi hijau sebagai prioritas dan mendorong bisnis untuk mematuhi peraturan terkait praktik environment, social, and government (ESG) atau lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST).

Sementara itu, dalam laporan PwC pada tahun 2021, Senior Partner PwC Indonesia, Eddy Rintis mengatakan dengan populasi terbesar keempat secara global dan presentase tingkat partisipasi angkatan kerja sebesar 67%, Indonesia diperkirakan akan terus menarik investasi di berbagai industri. Dia juga menambahkan bahwa teknologi dapat memainkan peran penting dalam membantu organisasi mencapai ambisi LST mereka.

“Begitu perusahaan menentukan tujuan LST, untuk mengidentifikasi titik data terkait akan memerlukan metode pengumpulan baru. Perusahaan dapat memanfaatkan berbagai teknologi,seperti perencanaan geospasial, citra satelit, dan kendaraan udara tak berawak (UAV)–untuk menghasilkan data yang andal, dapat di-verifikasi, serta data dapat dikelola secara real-time untuk keperluan analisis dan pemantauan. Analisis data dapat memproses statistik dalam jumlah besar untuk memberikan informasi yang lebih andal dan bermanfaat,” ujarnya.

Fokus pada topik seperti LST dan keberlanjutan ini juga telah mengalir ke industri PR. CEO H+K Indonesia Marianne Admardatine menambahkan bahwa saat ini, lebih dari 50% percakapan agensi dengan klien cenderung seputar keberlanjutan. Salah satu topik utama yang diangkat perusahaan adalah pengelolaan limbah dan limbah elektronik. “Kami ditugaskan untuk menjajaki pihak atau LSM mana pun yang dapat kami ajak kerjasama sebagai bagian dari pembuktian program CSR klien kami,” tambahnya.

Namun, meskipun keberlanjutan menjadi topik utama dalam dunia bisnis di Indonesia selama beberapa waktu, banyak perusahaan PR yang belum mengambil inisiatif untuk memimpin diskusi, kata Ong Hock Chuan, Managing Partner Maverick PR. Para pemimpin pemikiran terutama adalah praktisi keberlanjutan dan satu atau dua firma urusan publik. Belakangan ini, pembicaraan juga lebih condong ke LST karena adanya dorongan dari pemerintah Indonesia untuk memberlakukan standar pelaporan.

Meskipun hal ini telah menjadi topik dalam banyak webinar, sebagian besar percakapan yang melibatkan praktisi komunikasi hanya berdasarkan laporan semata. Ong menambahkan bahwa klien juga menjangkau agensi seperti dia untuk bantuan dalam menyusun strategi CSR dan upaya keberlanjutan untuk menerima lebih banyak paparan di media, “mencerminkan tingkat pemahaman perusahaan di sini tentang peran PR dalam isu keberlanjutan dan LST.”

Ong menambahkan bahwa terlepas dari diskusi, industri komunikasi di Indonesia masih memiliki pemahaman yang agak dangkal tentang keberlanjutan dan LST. Akibatnya, banyak lembaga juga akhirnya mengemas atau memasarkan laporan keberlanjutan atau LST korporasi yang telah disiapkan oleh spesialis keberlanjutan 

Hal apa yang perlu ditingkatkan?

“Masih banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman yang mendalam seputar LST di antara para praktisi PR di semua tingkatan, sehingga mereka dapat memberi saran kepada klien tentang implementasi LST,” kata Ong. Para agensi komunikasi harus dapat memberikan saran kepada klien tentang bidang yang perlu mereka tekuni, mengidentifikasi pemangku kepentingan utama, dan berkomunikasi dengan mereka dengan cara yang otentik serta tanpa jejak greenwashing yang merupakan upaya perusahaan untuk terlihat ‘lebih hijau’ atau strategi komunikasi suatu perusahaan untuk memberikan citra yang ramah lingkungan.

Beliau menambahkan bahwa fokus lebih lanjut perlu diletakkan pada fakta bahwa keberlanjutan dan ESG bukanlah cara lain untuk melakukan greenwash tetapi untuk meningkatkan kepercayaan pada perusahaan. “Memiliki LST dan keberlanjutan sebagai inti memungkinkan perusahaan tidak hanya untuk mengurangi risiko, tetapi juga melihat dan memanfaatkan peluang dalam lingkungan dan norma sosial yang berubah,” katanya.

Admardatine menambahkan bahwa klien juga perlu lebih fokus dan berdedikasi terhadap keberlanjutan dan tidak dalam kebiasaan menempatkan semua agenda, termasuk keberlanjutan, ke dalam satu program komunikasi.

“Banyak brand tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan banyak program keberlanjutan karena pendekatan sporadis mereka. Membungkusnya dengan program pemasaran dan komunikasi lainnya membuat upaya tersebut kurang terlihat dan kurang berharga. Saya ingin kebiasaan ini diubah menjadi tindakan yang lebih fokus dan berdedikasi,” kata Admardatine.

Dia menambahkan bahwa program keberlanjutan harus dipisahkan dari pemasaran dan komunikasi reguler dari brand itu sendiri untuk melihat dampak/hasil yang sebenarnya. Dengan demikian, program keberlanjutan perlu dipertahankan dalam periode yang lebih lama dengan fokus yang lebih baik diberikan pada pengukuran hasil.

Tantangan agenda

Menurut Admardatine, penceritaan sebagian besar program keberlanjutan masih menjadi tantangan bagi banyak orang. Rutinitas biasa dari sebagian besar kegiatan PR selalu seputar pengumuman program dan tindakan jangka pendek, dan tidak banyak yang membagikan hasil dan proses secara teratur atau membuat kampanye Humas untuk membuat pemangku kepentingan merasakan hasil yang baik dari program dan ingin menjadi bagian darinya (kurangnya kampanye dan pengukuran ajakan bertindak yang efektif).

Meskipun tidak diragukan lagi terdapat peningkatan jumlah brand yang mencari dukungan PR di bidang LST dan keberlanjutan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengedukasi pasar Indonesia tentang manfaat LST dan membangun kesadaran sejati di sekitarnya, kata Joyce Hutapea,  Market Lead – Indonesia, Precious Communications.

Sebagian besar perusahaan di Indonesia yang menggunakan inisiatif LST dan komunikasi keberlanjutan saat ini berusaha mengikuti apa yang dilakukan kompetitor mereka, dan tantangannya adalah bagi brand dan bisnis untuk menggabungkan orisinalitas, konsistensi, dan kepekaan.

Going green bukan hanya untuk sekedar mengikuti tren, tetapi harus dengan tujuan jelas dan baik agar memberikan dampak signifikan terhadap komunitas yang ada,” kata Hutapea. Oleh karena itu, banyak percakapan yang dilakukan PRecious saat ini seputar penyediaan konteks dan menjelaskan sensitivitas dan tantangan untuk berbicara tentang keberlanjutan secara tulus.

“Ini merupakan masalah etika bisnis daripada kemenangan secara instan,” katanya, seraya menambahkan bahwa melakukan tindakan yang konsisten dan pendidikan seputar topik ini terus menjadi tantangan besar.

“Di PRecious, kami berharap dapat mengarahkan percakapan tentang bagaimana komunikasi dapat berfungsi sebagai kekuatan yang membantu industri dan ekosistem bergerak bersama-sama menuju penyebaran pola pikir keberlanjutan,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *