Bagaimana Praktisi Komunikasi Mengatasi WFH Fatigue Selama Pandemi

In Retrospect: Tokyo 2020
August 30, 2021
Views From the Mills: Reflections on Office Life
September 14, 2021

Sejak virus COVID-19 melanda lebih dari 1 tahun yang lalu, masyarakat Indonesia masih harus terus beradaptasi dengan kondisi pandemi. Rangkaian pelaksanaan vaksinasi yang sudah dilakukan sepanjang tahun 2021 ini pun tidak sejalan dengan peningkatan angka penularan COVID-19. Varian baru yang terus bermunculan juga mengakibatkan pemerintah harus tetap waspada dan berhati – hati. Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dibagi dalam beberapa level telah menjadi keniscayaan yang harus dihadapi saat ini. Karena itu, banyak perusahaan yang pada akhirnya mengharuskan karyawannya untuk bekerja dari rumah – WFH (work from home), yang menyebabkan kelelahan (fatigue) akibat pandemi yang dialami oleh para pekerja.

Indonesia telah mengadopsi kebiasaan WFH lebih dari satu tahun, dan terus meningkatkan kewaspadaannya karna total infeksi COVID yang sempat menyentuh angka 50.000 kasus baru dalam sehari. Berbagai upaya telah dilakukan seperti program vaksinasi yang sudah dibagikan kepada hampir 59 juta warga di Indonesia – menjadikan Indonesia peringkat 6 dunia dalam hal populasi tervaksin. Selain itu, pemerintah juga kembali memberlakukan pembatasan sosial adanya program PPKM yang dibagi dalam beberapa level bergantung pada wilayahnya. .

Tidak dapat dimungkiri, pandemi telah membawa banyak perubahan pada cara perusahaan beroperasi. Perubahan dan adaptasi yang terus menerus terjadi ini memunculkan fenomena bernama “Pandemic Fatigue” yang menyebabkan banyak pekerja mengalami tingkat kecemasan dan kelelahan yang konstan. 

Bekerja dari rumah: keuntungan atau kerugian?

Tak ada yang bisa memprediksi kapan pastinya pandemi COVID-19 akan berakhir. Hal ini menjadi titik penting yang membentuk akar permasalahan emosional bagi banyak orang. Banyak yang telah kehilangan orang terdekat mereka, bahkan pekerjaan mereka selama beberapa bulan terakhir. Gaya hidup di masa pandemi yang membuat kita semua harus berada di rumah hampir sepanjang waktu – hanya memperburuk rasa lelah ini. Tindakan pencegahan virus yang ekstra telah mengubah rutinitas kita sehari – hari, dan membawa kita ke dalam kebiasaan yang baru. 

Industri – terutama yang sangat didorong oleh relasi – harus menyesuaikan diri dengan irama kerja baru dan bekerja secara lebih cerdas. Selain fakta bahwa tidak semua karyawan memiliki peralatan-peralatan kantor dengan lengkap di rumah, perusahaan di seluruh industri menemukan bahwa berkomunikasi melalui panggilan video dan berbagai aplikasi perpesanan menjadi terbatas ketika mereka ingin berinteraksi dengan orang – orang dan memperkuat hubungan dengan klien, rekan dan mitra.

Kehidupan pekerjaan dan pribadi seakan menyatu bagai pedang bermata dua. Pada sisi baiknya, karyawan tidak perlu berurusan dan menghabiskan waktu dengan lalu lintas yang sangat padat seperti di Jakarta, jika anda bukan orang yang suka bangun pagi, anda juga akan setuju bahwa hal ini sangat melegakan karena tidak perlu bangun lebih pagi untuk menghindari kemacetan yang ada di tengah kota. Bekerja dari rumah, memungkinkan orang tua untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak – anak mereka dan memperkuat relasi tersebut. Namun di sisi lain, kerja dari rumah juga memberikan lebih banyak distraksi – karena para pekerja tidak dapat melepaskan diri dari kewajiban pribadi di rumah. 

Mengalahkan kelelahan pandemi

Tingkat stres yang tinggi berarti para rekan kerja perlu saling memperbaiki cara mereka bekerja agar menjadi lebih baik. Hal ini merupakan tanggung jawab organisasi dan pemimpin untuk membuka saluran komunikasi antar kolega agar mereka dapat saling memahami bagaimana menciptakan budaya yang membuat para karyawan terbuka tentang masalah yang mereka hadapi. 

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memerangi pandemic fatigue dalam tim. 

  • Saling menanyakan kabar anggota tim secara berkala

Biasanya, stres adalah keadaan yang disebabkan oleh pertemuan faktor-faktor yang menghambat kemampuan seseorang untuk berfungsi secara normal. Ketika seseorang berada di ambang kelelahan akibat pandemi, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah melalui diskusi dengan manajer masing-masing untuk membahas solusi agar dapat bekerja lebih efektif untuk meringankan beban emosionalnya. 

Sayangnya, kebanyakan karyawan enggan untuk membagikan masalah pribadi mereka dengan manajernya. Maka dari itu, seorang pemimpin harus mencoba untuk mengubah budaya mereka dengan meluangkan waktu untuk berbicara dengan anggota tim mereka di luar pekerjaan atau melakukan sanity call dengan setiap anggota tim. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan setiap anggota merasa terisolasi dari tim mereka yang lain dalam pengaturan WFH.

  • Tahu Kapan Harus Beristirahat

Karyawan harus tahu kapan harus berhenti, bernafas, menghilangkan stres, dan mengisi ulang tenaga. Mengambil cuti sesekali dapat membantu untuk menyegarkan diri dan mengatur pikiran kembali. Dalam jangka panjang, hal-hal tersebut bisa membantu meningkatkan fokus di tempat kerja dan meningkatkan tingkat produktivitas. Sangat tidak sehat untuk mendorong diri sendiri melampaui batas, karena saat menghadapi banyak pemicu stress, otak juga bisa kelebihan beban dan tidak bekerja dengan optimal. Maka bertindaklah dengan bijak, ambil hari libur, beristirahat, dan kembali bekerja bersama rekan-rekan satu tim Anda dengan pikiran yang lebih segar.

  • Memberikan Batas antara Pekerjaan Kantor dan Rumah

Bekerja dari rumah telah mengaburkan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Tetapi walaupun rumah otomatis berubah menjadi tempat kerja di masa pandemi ini, karyawan harus tetap memperhatikan jam kerja dan jangan sampai bekerja sepanjang waktu hingga kebutuhan/kewajiban pribadi mereka menjadi terabaikan. Bekerja di masa new normal bukan berarti selalu siap mengurusi pekerjaan. Melakukan hal tersebut hanya akan memicu stres yang mengarah pada kelelahan berlebih (burnout), yang pada akhirnya menghasilkan situasi lose-lose, baik bagi pekerjaan maupun kehidupan karyawan.

Campur tangan organisasi untuk membuat karyawan tetap terlibat dapat mengurangi kecemasan dan menumbuhkan kepercayaan di tengah ketidakpastian. Kelelahan akibat pandemi sangat nyata, jadi perusahaan harus memprioritaskan hubungan antar karyawan dan membangun budaya kerja empatik. Berusahalah untuk memahami apa yang dibutuhkan karyawan, karena hal ini bisa sangat membantu dalam memberdayakan dan mendukung staf Anda di masa yang tidak pasti ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *